Zulkifli Mantau

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI USAHA BUDIDAYA IKAN MAS DAN NILA DALAM KERAMBA JARING APUNG GANDA DI PESISIR DANAU TONDANO PROPINSI SULAWESI UTARA

ZULKIFLI MANTAU, Peneliti Muda di BPTP Sulut
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Propinsi Sulawesi Utara
Jl. Kampus Pertanian Kalasey

Sumber:  http://sulut.litbang.deptan.go.id/

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dari luas wilayah Sulawesi Utara sebesar 2 748 763 ha, potensi untuk lahan perairan umum sebesar ± 28 500 ha yang terdiri dari danau 10 663 ha, rawa-rawa 13 712 ha dan sisanya sungai 4 125 Ha dengan total produksi sebesar 5 700 ton per tahun (Diskan Sulut, 2000). Danau Tondano dengan luas 4 278 Ha merupakan perairan umum terbesar di Sulawesi Utara telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budidaya ikan mas dan nila dalam keramba jaring apung serta budidaya ternak unggas air (itik). Karenanya masyarakat tani yang berada disekitar Danau Tondano banyak menggantungkan sumber pencaharian di perairan ini secara turun temurun.

Bertambahnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya makan ikan mengakibatkan permintaan terhadap ikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Di Propinsi Sulawesi Utara ikan mas dan nila merupakan ikan budidaya yang banyak diproduksi karena merupakan ikan air tawar yang disukai konsumen. Akibatnya perkembangan usaha pembesaran ikan mas dan ikan nila pun berlangsung dengan cepat.

Budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan salah satu teknologi budidaya yang handal dalam rangka optimasi pemanfaatan perairan danau dan waduk. Usaha budidaya ikan mas dan nila dalam Keramba Jaring Apung di Danau Tondano telah berkembang dengan pesat, namun perkembangannya tidak terkendali, dan dimana terlalu banyak menyita areal perairan danau. Keadaan ini berdampak negatif terhadap lingkungan perairan yang pada gilirannya dapat menimbulkan konflik diantara pengguna perairan, serta kematian massal ikan akibat gas beracun (NH3 dan H2S) yang dihasilkan dari pembusukan akumulasi sisa-sisa pakan yang tidak termanfaatkan oleh ikan.

Dimasa datang teknologi yang diperlukan adalah teknologi Keramba Jaring Apung yang ramah lingkungan, teknologi efisien dan produktivitasnya tinggi serta dampak negatifnya diupayakan seminimal mungkin terhadap lingkungan perairan. Salah satu teknologi budidaya Keramba Jaring Apung yang dianggap efisien dan produktivitasnya tinggi adalah teknologi budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung Ganda (Kartamihardja, 1997).

Pada prinsipnya karena KJA Ganda ini lebih menghemat tempat/lokasi pemeliharaan dibanding KJA tunggal dan minimnya pakan ikan mas yang terbuang karena dimanfaatkan oleh ikan nila maka dapat dikatakan bahwa KJA Ganda ini lebih efisien dan lebih ramah lingkungan dibanding KJA tunggal. Demikian pula hasil ekskresi ikan mas dapat pula dimanfaatkan sebagai makanan oleh ikan nila sebab secara morfologis ikan nila bersifat omnivora cenderung herbivora (Suyanto, 1994; pengalaman pribadi).

Pengelolaan usaha budidaya yang kurang baik juga memberikan umpan balik yang merugikan terhadap operasional budidaya, seperti membatasi jumlah unit Karamba Jaring Apung (KJA) dan menurunnya produksi ikan. Terlepas dari semuanya itu, masalah utama yang sering dihadapi petani KJA di Danau Tondano adalah masih terus meruginya usaha budidaya ikan mereka karena rendahnya produktivitas dan masalah kualitas air, dimana meningkatnya produksi gas-gas beracun (amoniak, H2S, dll) pada awal musim penghujan yang oleh masyarakat setempat disebut aer busu. Selain itu masalah lainnya adalah pendangkalan Danau Tondano, sehingga penempatan KJA lama-kelamaan semakin ke tengah perairan. Pada dasarnya penempatan KJA harus pada kedalaman air minimal berkisar antara 2 – 3 m dan kedalaman optimal 5 – 7 m dengan kecerahan air 1 – 2 m (Mantau, et.al, 2004).

Masalah klasik yang umumnya ditemui pada danau-danau atau waduk-waduk tempat dikembangkannya budidaya ikan dalam jaring adalah masalah daya dukung perairan (carrying capacity). Demikian halnya yang terjadi di Danau Tondano, dimana terdapat sekitar 6000 unit KJA yang ditebari pakan ikan sekitar 1825 ton/tahun (Diskan Kab.Minahasa, 1996). Sangat jauh dari kondisi optimal jumlah KJA di Danau Tondano yang hanya berkisar 4000 – 5000 unit (Winowatan, 2002). Selain itu akumulasi timbunan bahan organik khususnya dari buangan sisa pakan dan kotoran ikan telah menyebabkan terjadinya eutrofikasi. Hal ini berpengaruh langsung pada kualitas perairan danau. Hasil penelitian dari Unsrat Manado menemukan bahwa kadar ammoniak (NH3) dan sulfide (H2S) pada kedalaman 0 – 3 m adalah sebesar 0.08 mg/l dan 0.37 mg/l sedangkan pada bagian dasar perairan masing-masing sebesar 0.11 mg/l dan 0.56 mg/l. Padahal standart mutu baku air danau untuk Golongan A (air minum) untuk kedua jenis senyawa tersebut adalah < 0.05 mg/l dan untuk Golongan C (usaha budidaya perikanan dan peternakan) adalah < 0.02 mg/l.
2
Sehingga jika tidak cepat diatasi maka lama-kelamaan Danau Tondano tidak layak lagi untuk diusahakan budidaya ikan dan airnya tidak boleh dijadikan air minum. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka BPTP Sulut melakukan introduksi penggunaan KJA Ganda untuk budidaya ikan mas dan nila, dimana prinsipnya dengan penerapan konstruksi ini maka daya dukung danau dapat teroptimalkan, pencemaran air danau terminimalisasi, biaya operasional khususnya pakan ikan (pellet) dapat ditekan karena hanya ikan mas yang diberi makan, produksi ikan meningkat yang berpengaruh pada tingkat pendapatan petani Sehingga dari kegiatan proyek usaha budidaya Keramba Jaring Apung Ganda (KJA-G) ini diharapkan bukan saja layak diterapkan petani secara finansial maupun ekonomi, namun juga mendatangkan keuntungan dari aspek lingkungan dimana akan mereduksi akumulasi bahan-bahan organik yang berasal dari sisa pellet dan kotoran ikan yang akan mengurangi kualitas air danau.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan kondisi yang dijelaskan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana potensi pengembangan proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda dilihat dari segi finansial dan ekonomi.
  2. Bagaimana pengaruh penggunaan KJA Ganda terhadap aspek teknis budidaya ikan mas dan nila serta aspek lingkungan perairan danau.

1.3. Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuannya adalah sebagai berikut:

  1. Menganalisis potensi pengembangan proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda dilihat dari segi finansial dan ekonomi.
  2. Mengetahui kelayakan teknis dan lingkungan penggunaan KJA Ganda untuk budidaya ikan mas dan nila di pesisir Danau Tondano.

II. DESKRIPSI PROYEK

2.1. Jenis dan Kegiatan Proyek

Jenis proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini merupakan proyek percontohan (pilot project) bagi petani ikan setempat yang umumnya masih menggunakan metode budidaya KJA tunggal yang sangat boros tempat dan mencemari lingkungan perairan sehingga menurunkan daya dukung perairan danau yang berakibat pada menurunnya produktivitas ikan dan danau serta pendapatan petani ikan setempat sebagai akibat dari semakin menurunnya jumlah panen ikan setiap periodenya.

Kegiatan proyek ini meliputi persiapan lokasi, sarana dan prasarana, kemudian pelaksanaan produksi dan pemasaran. Dalam kegiatan usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini menggunakan wadah pemeliharaan yaitu jaring apung ganda yang terbuat dari polyethylene (PE) # 1 – 1.5 inchi yang terdiri atas keramba lapisan dalam untuk pemeliharaan ikan mas dan keramba lapisan luar untuk pemeliharaan ikan nila masing-masing sebanyak 24 buah (24 unit KJA-G). Keramba lapisan dalam berukuran 1 x 1 x 1.3 m3 (bagian yang tenggelam ±0.5 m) dan keramba lapisan luar berukuran 1.3 x 1.3 x 1.8 m3 (bagian yang tenggelam ±0.5 m). Ukuran tersebut merupakan ukuran acuan, artinya dapat diperluas lagi sesuai kebutuhan dan luas areal perairan yang akan digunakan. Keramba jaring apung ganda ditambatkan pada rakit-rakit dari bambu atau kayu yang diberi pelampung berupa drum bekas.

Ikan yang digunakan adalah ikan mas dan ikan nila yang berasal dari BBI atau UPR terdekat. Pada awal kegiatan ini ukuran benih baik ikan mas dan nila adalah rata-rata 10 – 12 cm atau dengan bobot rata-rata 20 – 80 gram/ekor, dengan padat penebaran 20 ekor/m3. Pakan hanya diberikan pada ikan mas dengan dosis 10% dari berat total populasi sampel per jaring. Sedangkan Ikan nila tidak diberi pakan tetapi hanya memakan sisa pakan ikan mas yang ada di keramba bagian dalam.

2.2. Lokasi dan Peserta Proyek

Proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini dilaksanakan di Desa Telap Kecamatan Eris yang merupakan salah satu wilayah di pesisir Danau Tondano Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara, dengan karakteristik wilayah AEZ berada pada zona perairan umum. Wilayah Kecamatan Eris termasuk dalam zona IVax1. Zona tersebut terdapat pada elevasi 0 – 700 dengan suhu panas (1 zolyp) dengan kelembaban udara lembab, fisografi aluvial dengan besarnya lereng < 3 jenis tanah dengan drainase buruk. Teknologi pertanian lahan basa, berupa padi sawah dan kangkung terdapat 9088 ha atau 1.82% (Polakitan, dkk, 2000). Peserta proyek berasal adalah kelompok tani ikan setempat sebanyak satu kelompok  tani yang terdiri dari 24 orang petani ikan. Kelompok tani ini memiliki satu lokasi kegiatan usaha keramba jaring apung yang terdiri dari 24 unit jaring apung tunggal.

2.3. Permodalan

Selama kegiatan usahanya umumnya kelompok-kelompok tani ikan yang ada di Desa Telap belum pernah merasakan suntikan kredit usahatani dari pihak bank. Sehingga modal umumnya hanya berasal dari iuran masing-masing anggotanya. Sedangkan dari perusaahan mitra yaitu perusahaan pakan ikan umumnya hanya memberikan bantuan berupa pakan ikan (pellet) serta penampungan sebagian hasil ikan.

Namun walaupun begitu, dalam kegiatan pilot project ini diupayakan untuk memperoleh bantuan modal dari pihak bank, sehingga terdapat perhitungan angsuran pinjaman modal dari kredit Bank.

Modal yang digunakan dalam proyek ini sebagian berasal dari modal sendiri sebagian lagi berasal dari pinjaman. Kebutuhan modal awal sebesar Rp. 48 520 625 yang terdiri dari 30% kredit Rp. 14 556 188 dan 70% dari dana sendiri sebesar Rp 33 964 438. Penyaluran kredit melalui proses yang dilakukan oleh pihak bank setempat dengan bunga per tahun sebesar 14 persen. Pinjaman yang diberikan oleh pihak bank sangat membantu dalam pengembangan proyek ini dalam investasi dan operasional proyek ini. Pinjaman modal ini akan dikembalikan sebelum proyek ini berakhir yakni diangsur setiap tahun sampai tahun ketiga dari tujuh tahun umur proyek. Total angsuran bunga kredit (investasi + modal kerja) sebesar 14% tiap tahunnya, dimana pada tahun pertama sebesar Rp 2 715 520. Selanjutnya pada tahun kedua sebesar Rp 1 647 119 dan pada tahun ketiga sebesar Rp 578 717. Sedangkan angsuran pokok setiap tahunnya (sampai pada tahun ketiga)  sebesar Rp 7 631 438 (selengkapnya dapat dilihat pada analisis cash flow di Lampiran 3a dan 3b).

III. IDENTIFIKASI BIAYA DAN MANFAAT

3.1. Identifikasi Biaya

Secara sederhana suatu biaya adalah segala sesuai yang mengurangi suatu tujuan atau segala sesuatu yang mengurangi pendapatan nasional dan seara langsung mengurangi jumlah dan jasa akhir (Gittinger, 1986).

Menurut Choliq, dkk (1999) biaya proyek adalah seluruh biaya yang dikeluarkan guna mendatangkan penghasilan (return) pada masa yang akan datang. Selanjutnya dikemukakan pula bahwa biaya proyek pada dasarnya diklasifikasikan atas biaya investasi dan biaya operasional, dimana penjelasannya sebagai berikut:

  1. Biaya investasi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan mulai proyek tersebut dilaksanakan sampai proyek tersebut mulai berjalan (beroperasi). Biaya investasi misalnya pendirian bangunan pabrik, pembelian mesin dan peralatannya, tenaga kerja yang berhubungan dengan investasi dan sebagainya.
  2. Biaya operasional adalah seluruh biaya yang dikeluarkan karena proses produksi berlangsung dan secara rutin biaya ini harus dikeluarkn. Biaya operasional misalnya pembelian bahan baku, biaya listrik dan air, bahan bakar dan sebagainya.

Identifikasi biaya proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda terdiri dari proses budidaya ikan itu sendiri mulai dari persiapan lokasi serta sarana dan prasarana (unit jaring), benih ikan, pemeliharaan sampai pada panen dan pemasaran. Arus biaya dari pengusahaan budidaya ikan dalam KJA Ganda ini terdiri dari biaya investasi yang dikeluarkan sebelum memulai usaha dan biaya operasional yang dikeluarkan selama melakukan kegiatan produksi. Rincian biaya investasi pengusahaan ikan dalam KJA Ganda seperti terlihat pada Tabel 1.

Pada proyek ini harga bayangan untuk barang-barang dalam investasi diasumsikan mengikuti harga pasarnya. Justifikasi yang mendasarinya adalah karena kedelapan belas komponen biaya investasi tersebut merupakan barang-barang yang dapat dikategorikan dalam non tradabel goods, sehingga harga yang digunakan adalah harga domestik.

Biaya operasional merupakan biaya yang dikeluarkan setiap periode (3 bulan) dan tahunan selama pengusahaan ikan dalam KJA Ganda seperti terlihat pada Tabel 2. Selengkapnya biaya operasional dapat dilihat pada Lampiran 1.

Dalam kegiatan proyek ini diasumsikan bahwa jumlah biaya variabel sama atau tetap pada setiap periode usaha, sementara pada setiap tahunnya terdiri dari 4 periode usaha atau 4 kali panen sehingga diperoleh total biaya variabel tahunan sebesar Rp 27 378 333. Berdasarkan perhitungan biaya variabel tersebut terlihat bahwa komponen pakan merupakan komponen terbesar yang menyedot kebutuhan biaya operasional. Hal ini dapat dimaklumi karena dalam suatu usaha budidaya ikan (baik kolam maupun jaring apung) komponen pakan ikan merupakan komponen yang terbesar karena menyangkut kelangsungan hidup ikan budidaya. Sedangkan dalam komponen biaya tetap terdapat upah manajer yang dimaksudkan untuk biaya upah yang diberikan pada ketua kelompok tani yang juga merupakan orang yang lebih berperan dalam mengelola jalannya usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini disamping itu juga yang bertanggung jawab atas kelangsungan usaha ini, sehingga jika terdapat kerugian usaha disebabkan faktor teknis (selain faktor alam) maka manajer yang harus bertanggung jawab.

Untuk biaya pemasaran berupa biaya angkut/ transportasi dari lokasi ke supermarket atau pasar sudah termasuk dalam komponen biaya upah sewa sarana angkutan sebanyak satu trip sedangkan satu trip lainnya digunakan untuk sewa sarana transportasi benih ikan (pada awal pemeliharaan tiap periode).

Adapun untuk kegiatan panen menggunakan dua jenis tenaga kerja yaitu 1) tenaga panen yang merupakan tenaga kerja tidak terampil, sehingga upah bayangannya sebesar 80% dari upah aktualnya, dan 2) tenaga pengepakan ikan dalam kantong-kantong plastik. Tenaga kerja ini masuk dalam kategori tenaga kerja terampil sebab diperlukan ketrampilan khusus dalam mengepak ikan konsumsi yang masih hidup dalam kantong-kantong plastik yang berisikan oksigen. Ketrampilan khusus dalam hal ini yaitu teknik mengukur volume air dan oksigen yang dimasukkan dalam kantong plastik, cara mengikat kantong dan mengisi oksigen dalam kantong plastik tersebut.

3.2. Identifikasi Manfaat

Manfaat proyek terdiri dari 3 macam yaitu 1) tangible benefit adalah manfaat yang dapat diukur walaupun kadangkala sulit dinilai dalam bentuk uang. Manfaat ini dapat disebabkan oleh: peningkatan produksi, perbaikan kualitas produk, perubahan waktu dan lokasi penjualan serta perubahan bentuk produk juga disebabkan karena mekanisasi pertanian, pengurangan ongkos transportasi. 2) indirect or secondary benefit and cost, proyek dapat menghasilkan manfaat yang dirasakan di luar proyek sendiri sehingga mempengaruhi keadaan eksternal di luar proyek. 3) intangible benefits adalah manfaat yang tidakdapat/sulit diukur.

Manfaat (inflow) adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang menggunakan sejumlah biaya. Tabel 3 menunjukkan proyeksi penerimaan dari usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda secara finansial dan ekonomi. Manfaat pada pengusahaan ikan dalam KJA Ganda terdiri dari nilai penjualan total ikan mas dan nila ukuran konsumsi sebagai produk utama dalam usaha ini.

Untuk asumsi hasil panen ikan baik mas maupun nila bahwa hasil panen sebesar 800 dan 700 kg tersebut diperoleh setelah pemeliharaan selama 3 bulan dengan sintasan (survival rate) rata-rata 70%. Dimana ratio sintasan tersebut diasumsikan konstan pada tiap periode pemeliharaan, sehingga diperoleh hasil panen ikan yang cenderung seragam volumenya. Sedangkan harga jual ikan mas dan nila digunakan harga pasar atau harga aktual yang berlaku di pasar setempat (tradisional maupun supermarket). Sedangkan harga ekonominya mengikuti harga aktualnya. Hal ini didasari karena produk ikan mas dan nila hanya diperjualbelikan pada tingkat lokal dan bukan merupakan barang ekspor maupun diperjualbelikan antar pulau dalam jumlah yang besar.

IV. JUSTIFIKASI PROYEK

4.1. Analisis Biaya Manfaat yang digunakan

Dalam evaluasi proyek biasanya dilakukan dua macam analisis yaitu analisis finansial dan ekonomi. Dalam analisis finansial proyek dilihat dari sudut badan atau orang yang menanam modal dalam proyek disebut private return. Dalam analisis ekonomi proyek dilihat dari segi ekonomi secara keseluruhan tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-sumber tersebut dan siapa dalam masyarakat yang menerima hasilnya sering disebut social return.

Menurut Gittinger (1986) tujuan utama analisis finansial dalam usaha pertanian adalah untuk menentukan berapa banyak keluarga petani yang menggantungkan kehidupan mereka kepada usaha pertanian tersebut. Selanjutnya dikemukakan bahwa analis akan merasa perlu untuk membuat proyeksi mengenai anggaran yang akan mengestimasi penerimaan dan pengeluaran bruto pada masa-masa yang akan datang setiap tahun, termasuk biaya-biaya yang berhubungan dengan produksi dan pembayaran-pembayaran kredit yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga petani, agar dapat menentukan berapa besar pendapatan yang diterima oleh rumah tangga tani sebagai balas jasa tenaga kerja, keahlian manajemen, dan modal mereka.

Gittinger (1986) mengemukakan bahwa bilamana harga-harga finansial untuk biaya dan manfaat sudah ditentukan dalam perhitungan proyek, maka analis kemudian melakukan perkiraan nilai ekonomi dari proyek tersebut. Harga-harga finansial merupakan titik awal dalam anaisa ekonomi. Selanjutnya dikemukakan bahwa bila harga pasar setiap barang atau jasa dirubah untuk secara lebih dekat menggambarkan opportunity costnya (terhadap masyarakat), maka nilai yang baru ini disebut ”harga bayangan” (harga ekonomi/ harga akuntansi/ harga sosial). Menurut Gittinger (1986) terdapat tiga perbedaan penting antara kedua analisis tersebut, yaitu :

  1. Dalam analisis ekonomi pajak dan subsidi akan diperlakukan sebagai pembayaran transfer. Dalam analisis finansial penyesuaian demikian biasanya tidak diperlukan. Pajak biasanya dianggap sebagai biaya dan subsidi sebagai hasil (return).
  2. Dalam analisis finansial harga yang biasanya digunakan adalah harga pasar. Namun dalam analisis ekonomi kita boleh merubah harga pasar sedemikian rupa sehingga analisis kita dapat lebih mencerminkan secara tepat nilai-nilai sosial dan ekonomi (harga bayangan).
  3. Dalam analisis ekonomi bunga terhadap modal tidak pernah dipisahkan dan dikurangkan dari hasil bruto (gross return) karena bunga modal merupakan bagian dari hasil keseluruhan (total return) terhadap modal yang tersedia untuk masyarakat secara keseluruhan, sehingga bunga sangat diperhitungkan dalam analisis ekonomi. Dalam analisis finansial bunga yang dibayar kepada pihak penyedia dana dari luar dapat dikurangkan untuk memperoleh gambaran arus manfaat (inflow) yang tersedia bagi si pemilik modal. Sehingga bunga merupakan bagian dari hasil finansial yang diterima oleh badan usaha (pemilik modal/ penyedia dana).

Harga bayangan (harga ekonomi) ikan ukuran konsumsi diperhitungkan sama baik secara ekonomi maupun aktual (harga pasar). Hal ini didasari karena produk ikan mas dan nila hanya diperjualbelikan pada tingkat lokal dan bukan merupakan barang ekspor maupun diperjualbelikan antar pulau dalam jumlah yang besar. Begitupuun dengan harga input benih ikan antara harga pasar dan harga bayangan tidak terdapat perbedaan. Hal ini disebabkan karena harga bayangan benih diperoleh dari hasil bagi antara harga pasar benih dan harga pasar ikan konsumsi dikali dengan harga bayangan ikan konsumsi. Model perhitungan benih seperti itu karena faktor benih memiliki aspek quality control.

Minyak tanah merupakan komoditas migas yang mendapat subsidi dari pemerintah. Sehingga harga bayangan minyak tanah merupakan harga non subsidi yang sudah ditentukan oleh Pertamina, sedangkan harga pasar merupakan harga subsidi sesuai aturan pemerintah. Harga rata-rata minyak tanah bersubsidi pada tahun 2002 (saat proyek ini dimulai) secara nasional sebesar Rp 1346 per liter, sedangkan harga rata-rata minyak tanah non subsidi sebesar Rp 1841 per liter. Sehingga harga bayangan minyak tanah mengacu pada harga non subsidi tersebut.

Harga bayangan tenaga kerja digunakan harga aktualnya dengan asumsi bahwa tenaga kerja yang digunakan semuanya termasuk tenaga kerja terampil. Sedangkan tenaga kerja yang tidak terampil seperti penjaga sarana budidaya dan tenaga angkut, diberlakukan upah bayangan sebesar 80% dari upah aktualnya.

Pelaksanaan analisis finansial dari suatu proyek dapat menggunakan metode-metode atau kriteria-kriteria penilaian investasi. Kriteria investasi digunakan untuk mengukur manfaat yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan dari suatu proyek. Melalui metodemetode ini dapat diketahui apakah suatu proyek layak untuk dilaksanakan dilihat dari aspek profitabilitas komersialnya. Beberapa kriteria dalam menilai kelayakan suatu proyek yang paling umum digunakan adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio).

Net Present Value (NPV) merupakan manfaat bersih yang diterima selama umur proyek pada tingkat diskonto tertentu. NPV dapat dirumuskan sebagai berikut:

Ukuran ini bertujuan untuk mengurutkan alternatif yang dipilih karena adanya kendala biaya modal, dimana proyek ini memberikan NPV biaya yang sama atau NPV penerimaan yang kurang lebih sama setiap tahun. Proyek dinyatakan layak atau bermanfaat jika NPV lebih besar dari 0. Jika NPV sama dengan 0, berarti biaya dapat dikembalikan persis sama besar oleh proyek. Pada kondisi ini proyek tidak untung dan tidak rugi. NPV lebih kecil dari nol, proyek tidak dapat menghasilkan senilai biaya yang dipergunakan dan ini berarti bahwa proyek tersebut tidak layak dilakukan (Gray et.al, 1992).

Internal Rate of Return (IRR) menunjukkan rata-rata keuntungan internal tahunan perusahaan yang melaksanakan investasi dan dinyatakan dalam persen. IRR adalah tingkat suku bunga yang membuat nilai NPV proyek sama dengan nol. IRR secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

Investasi dikatakan layak jika IRR lebih besar dari tingkat diskonto, sedangkan jika IRR lebih kecil dari tingkat diskonto maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan. Tingkat IRR mencerminkan tingkat bunga maksimal yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumber daya yang digunakan. Suatu investasi dinyatakan layak jika IRR lebih besar dari tingkat bunga yang berlaku.

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) adalah besarnya manfaat tambahan pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan. Net B/C adalah merupakan perbandingan antara nilai sekarang (present value) dari net benefit yang positif dengan net benefit yang negatif. Net B/C ratio secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

Proyek dikatakan layak bila NBCR lebih besar dari satu (Gray et al, 1992). Dalam proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini pun dilakukan analisis cash flow baik secara finansial maupun ekonomi, seperti terlihat pada Tabel 6 dan 7. Namun sebelumnya perlu dirumuskan beberapa asumsi yang mendasari analisis biaya dan manfaat dari proyek ini, yaitu seperti terlihat pada Tabel 5.

Tabel 6 menunjukkan perhitungan kelayakan investasi secara finansial diperoleh NPV sebesar Rp 10 421 565. Nilai NPV tersebut berarti penanaman investasi pada proyek budidaya ikan dalam KJA Ganda akan memberikan keuntungan sebesar Rp 10 421 565 selama 7 tahun umur proyek.

IRR merupakan tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar oleh proyek untuk sumberdaya yang digunakan karena proyek membutuhkan dana lagi untuk biaya-biaya operasional, investasi dan proyek baru sampai pada tingkat pengembalian modal. Berdasarkan Tabel 6 menunjukkan nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga 14% atau dengan kata lain bahwa usaha ini akan memberikan pendapatan rata-rata setiap tahun dari modal yang telah diinvestasikan sebesar 22.56%. Artinya dengan biaya opportunity of capital sebesar 14%, usaha ini masih layak dilaksanakan karena memberikan pendapatan rata-rata sebesar 22.56 % per tahun dari modal yang ditanamkan.

Nilai B/C yang diperoleh sebesar 1.21 berarti untuk setiap nilai sekarang dari pengeluaran 1 rupiah akan memberikan penerimaan sebesar Rp. 1.21 dengan jangka waktu pengembalian modal selama 3.59 tahun. Nilai B/C > 1 menunjukkan bahwa usaha ini layak untuk dilakukan.

Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis ekonomi terhadap proyek Usaha Budidaya Ikan dalam KJA Ganda ini, dimana perhitungan cash flownya seperti terlihat pada Tabel 7.

Pada analisis ekonomi diperoleh NPV sebesar Rp 4 541 445. Nilai ini menunjukkan bahwa investasi proyek penggilingan padi memberikan pendapatan bersih tambahan sebesar Rp 4 541 445 selama 7 tahun proyek.

Berdasarkan Tabel 7 diperoleh nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga bayangan 18% atau dengan kata lain bahwa usaha ini akan memberikan pendapatan rata-rata setiap tahun dari modal yang telah diinvestasikan sebesar 22.10%. Artinya dengan biaya opportunity of capital sebesar 18%, usaha ini masih layak dilaksanakan karena memberikan pendapatan rata-rata sebesar 22.10% per tahun dari modal yang ditanamkan. Suku bunga bayangan yang digunakan sebesar 18% merupakan suku bunga pinjaman para tengkulak yang berlaku di lokasi proyek.

Net B/C diperoleh sebesar 1.09, nilai ini berarti setiap nilai sekarang dari pengeluaran sebesar 1 rupiah akan memberikan penerimaan sebesar Rp. 1.09, dengan jangka waktu pengembalian modal selama 4.86 tahun.

Nilai kelayakan investasi lebih besar pada analisis finansial dibandingkan dengan analisis ekonomi karena komponen biaya (outflow) analisis ekonomi lebih tinggi dari finansial, sedangkan penerimaan (inflow) yang diperoleh relatif sama (lihat lampiran 3a dan 3b).

4.2. Dampak Sosial, Ekonomi dan Lingkungan

Dengan adanya proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda di pesisir Danau Tondano ini banyak memberikan dampak bagi kehidupan sosial dan ekonomi petani ikan setempat khususnya serta Danau Tondano itu sendiri (aspek lingkungan hidup). Dengan penerapan model budidaya ikan dalam KJA Ganda ini dapat menghemat lahan dan pakan (efisiensi lahan dan pakan) yang berpengaruh langsung pada penurunan biaya operasional usaha sehingga akan berdampak pada peningkatan pendapatan, sebab biaya pakan (pellet) merupakan komponen biaya terbesar dari suatu usaha budidaya ikan.

Dari aspek lingkungan hidup dengan penerapan model budidaya ikan dalam KJA Ganda ini maka akan mereduksi akumulasi cemaran sisa pakan dan kotoran ikan di dasar perairan danau. Sehingga recovery kualitas air danau akan terwujud, sebab pemberian pakan pellet hanya pada ikan mas (jaring dalam), sedangkan ikan nila yang dipelihara pada lapisan jaring luar hanya menerima sisa pakan ikan mas serta kotorannya (hal ini telah gamblang
diuraikan dalam pendahuluan).

4.3. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas (switching value) dilakukan untuk meneliti kembali suatu analisis kelayakan proyek, agar dapat melihat pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah atau adanya sesuatu kesalahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya manfaat. Dalam analisis sensitivitas setiap kemungkinan harus dicoba yang berarti bahwa setiap kali harus dilakukan analisis kembali. Hal ini perlu karena analisis proyek biasanya didasarkan pada proyeksi-proyeksi yang mengandung banyak ketidakpastiaan dan perubahan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Pada sektor pertanian, proyek dapat berubahubah sebagai akibat dari empat permasalahan utama yaitu perubahan harga jual pokok, keterlambatan pelaksanaan proyek, kenaikan biaya dan perubahan nilai volume produksi. Dalam proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini dilakukan lima model skenario perubahan baik di komponen biaya variabel maupun pada penerimaan proyek ini. Untuk selanjutnya dapat dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap komponen-komponen kelayakan usaha (NPV, IRR dan Net B/C) baik secara finansial maupun ekonomi. Kelima skenario yang akan dilihat sensitivitas perubahannya yaitu:

  1. Jika biaya variabel dinaikkan 2%
  2. Jika biaya variabel dinaikkan 3%
  3. Jika penerimaan diturunkan 1%
  4. Jika penerimaan diturunkan 2%
  5. Jika biaya variabel dinaikkan 1% dan penerimaan diturunkan 1% Hasil perhitungan analisis sensitivitas seperti terlihat pada Tabel 8.

 

Jika dibandingkan antara hasil analisis sensitivitas pada Tabel 8 dan hasil analisis cash flow pada Tabel 6 maka keseluruhan hasil yang diperoleh pada Tabel 8 menunjukkan tingkat kelayakan finansial yang lebih rendah dibanding dengan hasil pada Tabel 6. Di lain pihak dapat dikemukakan bahwa secara finansial kelima skenario tersebut tidak menunjukkan pengaruh yang significant terhadap perubahan komponen kelayakan usaha disebabkan karena range perbedaan nilai yang cukup kecil, sehingga tanpa menerapkan kelima skenario itupun, maka proyek usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda ini sudah memiliki tingkat kelayakan usaha yang memadai secara finansial, seperti terlihat pada Tabel 6. Fenomena yang serupa juga muncul pada analisis ekonomi. Berdasarkan Tabel 8 tersebut terlihat umumnya secara ekonomi menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan dengan tanpa penerapan kelima skenario tersebut seperti hasil analisis ekonomi pada Tabel 7. Bahkan pada skenario keempat yaitu penurunan penerimaan sebanyak 2% menunjukkan ketidaklayakan proyek ini secara ekonomi karena memiliki NPV yang negatif, IRR yang lebih kecil dari suku bunga bayangan, Net B/C yang kurang dari satu dan jangka waktu pengembalian yang melebihi umur proyek. Sehingga berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa tanpa menerapkan kelima skenario tersebut maka secara finansial maupun ekonomi usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda tersebut sudah menunjukkan tingkat kelayakan usaha yang memadai. Perhitungan secara lengkap analisis sensitivitas dari kelima skenario tersebut dapat dilihat pada bagian Lampiran 4a – 8b.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  1. Analisis kelayakan usaha baik secara finansial maupun ekonomi dengan menggunakan kriteria NPV, Net B/C, IRR dan PBP menunjukkan bahwa investasi usaha budidaya ikan dalam KJA Ganda di Pesisir Danau Tondano layak untuk dilaksanakan dalam kurun waktu yang cukup panjang.
  2. Selain layak secara finansial dan ekonomi maka secara teknis penggunaan Keramba Jaring Apung Ganda (KJA Ganda) untuk pembesaran ikan mas dan nila cocok diterapkan untuk meningkatkan pendapatan petani, mengoptimalkan pemanfaatan pakan sisa ikan mas oleh ikan nila sehingga polusi air yang ditimbulkan oleh akumulasi dekomposisi sisa pakan di dasar perairan dapat ditekan sekecil mungkin.
  3. Dari aspek lingkungan membawa dampak positif bagi kualitas perairan danau sehingga kelangsungan usaha lebih terjamin.

5.2. Saran

Perlu adanya regulasi yang permanen mengenai penggunaan KJA Ganda dalam usaha budidaya ikan mas dan nila di Danau Tondano, sehingga daya dukung (carrying capacity) danau bisa terjaga dalam kurun waktu yang lebih panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Perikanan Propinsi Sulawesi Utara. 2000. Informasi Perikanan. Dinas Perikanan Sulawesi Utara, Manado.

Dinas Perikanan Kabupaten Minahasa. 1996. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Kabupaten Minahasa Propinsi Sulawesi Utara. Diskan Minahasa, Tondano.

Choliq, H.R.A.R. Wirasasmita, S. Hasan, 1999. Evaluasi Proyek (Suatu Pengantar). Pionir Jaya, Bandung.

Gittinger, J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Terjemahan. Edisi Kedua. UI-Press dan John Hopkins, Jakarta.

Gray, C., Payaman, S., Lien K, P.F.L. Maspaitella, R.C.G., Varley. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Kedua. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Kartamihardja, E. S. 1997. Pengembangan dan Pengelolaan Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Tancap Ramah Lingkungan di Perairan Waduk dan Danau Serbaguna. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia II.

Kartamihardja, E. S., H. Satria dan A.S. Sarnita. 1999. Karakteristik Populasi Ikan di Danau Tondano, Sulawesi Utara. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, (5) 1 : 7 – 19.

Mantau, Z., Tutud, V., Rawung, J.B.M., Latulola, M.T., Sudarty. 2004. Budidaya Ikan Mas dan Nila dalam Keramba Jaring Apung Ganda di Desa Telap pada Pesisir Danau Tondano. Prosiding. Seminar Nasional Badan Litbang Pertanian. Manado 9 – 10 Juni 2004. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.

Polakitan,A., Joseph,G.H., Lala,R., Rimporok,O., Pajow,S., Djuri,R. 2000. Laporan Hasil Penelitian Identifikasi Kebutuhan Teknologi dan Karakterisasi AEZ Kebupaten Minahasa. IPPTP Kalasey.

Suyanto, S.R., 1994. NILA. PT.Penebar Swadaya, Jakarta.

Winowatan, A.F., 2002. Pengelolaan DAS Tondano Harus Terpadu dan Merdeka. Manado Post edisi Jumat, 18 Agustus 2002.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s